.
Awalnya saya ingin menggunakan frasa “kaum
santri”. Akan tetapi, tidak ada salahnya jika memilih istilah lain untuk
menggelari kaum santri Salafy. Pikir demi pikir, yang langsung
terlintas di benak adalah frasa ‘kaum thalib’. Dalam bahasa Arab, thalib
mengandung makna seorang pelajar, penuntut ilmu, siswa bahkan mahasiswa
pun tidak jarang disebut thalib.
Resolusi diartikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan ; ” Putusan
atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan
oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi
tuntutan tentang suatu hal“. Namun dalam penggunaan sehari-harinya, makna resolusi sering dipersingkat menjadi ‘sebuah tekad kuat’.
Tulisan sederhana ini saya susun untuk sedikit
menggambarkan kondisi kaum thalib yang sedang berjuang gigih di negeri
Yaman, untuk menghimpun bidang-bidang ilmu warisan Salaf. Secara khusus
lagi adalah gantungan-gantungan tanya yang sering bergelayutan di dalam
pikiran mereka,”Esok hari, bila tiba di negeri pertiwi, pekerjaan apa
yang menanti dan akan digeluti ?”
O0000_____0000O
Suasana akrab itu sebenarnya terjadi beberapa malam lalu.
Berlagak sebagai seorang moderator, saya membuka bincang-bincang ringan.
Kami sekumpulan kaum thalib, berusaha menimba ilmu dari seorang
praktisi bisnis yang kebetulan sedang berkunjung ke tempat kami. Penuh
keakraban dan berwarna santai.
Beliau kami panggil dengan sebutan Pak Abu. Usianya sudah
lima puluh tahun. Uban-uban putih nampak berjajar rapi di balik kopiah
putih yang dipakainya. Pak Abu termasuk pengusaha konveksi yang lumayan
sukses di Indonesia. Usia ternyata bukan menjadi penghalang beliau untuk
melangkahkan kaki sampai di negeri Yaman demi berthalabul ilmi,
bergabung bersama kami, kaum thalib.
“Mumpung ada kesempatan, Pak Abu. Kaum thalib semacam kami
ini, yang menghabiskan umur dan waktu untuk mempelajari firman Allah dan
sabda Rasul, seringkali dibenturkan dengan sebuah pertanyaan”,
begitulah saya memulai.
“Orangtua, saudara, kerabat, tetangga atau sahabat sering
bertanya. Bahkan pertanyaan itu juga terkadang malah muncul dari
perasaan kami sendiri. Kalau kamu belajar agama sampai seperti itu,
besok kamu akan kerja apa? Besok apa yang akan kamu makan, istri dan
anak-anakmu?”, saya melanjutkan.
Kemudian saya menutup mukaddimah, “Nah, barangkali Pak Abu
bisa berbagi pengalaman. Apakah peluang usaha untuk kami-kami ini masih
terbuka di Indonesia? Apakah kaum thalib, yang sebagiannya tidak kuliah
atau bahkan hanya lulusan SD ini juga memiliki kesempatan untuk
bekerja?”.
Pak Abu hanya senyum-senyum saja. Kami yang hadir juga ikut
tersenyum sambil tertawa kecil. Aneh juga, sebelum makan malam malah
dikondisikan dengan suasana sedemikian ini. Pak Abu yang berstatus tamu
kehormatan malah didaulat untuk berbagi cerita.
Akhirnya Pak Abu memulai juga. Kata beliau,
“Peluang usaha di Indonesia masih terbuka lebar. Mencari uang yang halal banyak jalannya. Yang penting kejujuran dan keuletan harus menjadi dasar utamanya. Tidak perlu berkecil hati karena tidak punya ijazah. Toh, banyak pengangguran malah ke sana kemari menenteng ijazah S1″..“Rezeki itu sudah diatur Allah. Saya tidak mungkin bisa merebut jatah orang lain yang sudah ditetapkan Allah. Sebaliknya, jatah saya tidak akan mungkin berpindah ke orang lain. Masing-masing sudah diatur oleh Allah”, ujarnya melanjutkan.
Setelah itu Pak Abu mulai bercerita tentang kisahnya
memulai usaha konveksi. Dari yang hanya sepotong dua potong sampai kini
omsetnya ribuan potong per bulan. Suka dukanya juga tidak lupa beliau
ceritakan.
Selain itu, Pak Abu juga menceritakan beberapa ikhwan
Salafy yang telah sukses dalam dunia usaha. Mereka yang mula-mula hanya
seorang pelaku usaha kecil-kecilan, sampai di kemudian waktu menjadi
pengusaha sukses. Pedagang herbal, penjual kue pukis, penjahit bordir
pakaian adalah beberapa contoh nyata yang disebutkan oleh Pak Abu malam
itu.
Seorang kawan lalu mengajukan pertanyaan, “Usaha itu kan butuh modal, Pak Abu. Sementara kami, dapat dari mana modalnya?”.
Pak Abu menjawab, “Yang penting memulai. Adanya hanya
sepuluh ribu, ya sepuluh ribu dulu. Setelah itu pasti berkembang jika
kita serius dan tekun, insya Allah”.
Beberapa hal yang disampaikan Pak Abu memang terasa
mencerahkan pikiran. Perasaan yang sebelumnya terjepit dan terhimpit
oleh kejaran tanya ‘Besok kerja apa?’ sudah berangsur menguap.
Sampai-sampai seorang sahabat yang hadir di malam itu berujar, “Daripada
uang dihabiskan untuk kuliah, bagus Ana pakai untuk modal buka usaha
air isi ulang!”.
O0000_____0000O
Allah telah menerangkan langkah-langkah yang ditempuh oleh
setan untuk menyesatkan manusia agar kita terhindar dan menjauhi. Salah
satu upaya yang dilakukan oleh setan adalah meniup-niupkan,
menghembuskan dan membisikkan kekhawatiran di dalam hati anak manusia.
Khawatir miskin, takut fakir, kehilangan harta padahal membutuhkan
adalah bisikan-bisikan setan.
Bisikan setan seperti itu, terkadang terdengar oleh telinga
kita. “Kalau dari kecil di pesantren, besok mau kerja apa? Kerjaannya
cuma hafal Al Qur’an, memangnya nanti mau makan apa? Ngaji terus, ngaji
melulu, apakah kamu tidak memikirkan masa depanmu?”.
Allah berfirman di dalam Al Qur’an,menjelaskan tipu daya setan ini;
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌSyaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:268)
Ya! Setan dan bala tentaranya tidak akan diam dan tinggal
tangan melihat anak cucu Adam berkutat dari waktu ke waktu, mempelajari
dan menekuni Kitabullah dan sunnah Nabi. Setan akan bersedih jika
menyaksikan sekelompok anak-anak muda Islam tekun dan bersabar memilih
Thalabul Ilmi sebagai jalan hidupnya. Ya, setan akan terus menggoda kaum
thalib agar jenuh dan bosan.
Tujuan akhirnya? Kaum thalib meninggalkan garis terdepan dalam thalabul ilmi. Nas’alullah as salaamah wal ‘afiyah.
Bagaimana mungkin kaum thalib akan goyang dalam bersikap?
Sementara sehari-hari mereka mendengar, membaca dan merenungkan
ayat-ayat Allah tentang rejeki. Bukankah mereka benar-benar hafal akan
firman-Nya ?
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍDan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. 11:6)وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُDan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri.Allah-lah yang memberi rizki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 29:60)
Kaum thalib tidak pernah ragu, bila rejeki telah ditetapkan
Allah. Mereka tidak akan gentar atau cemas tentang ‘masa depan’ yang
sering dijadikan pertanyaan oleh orang-orang. Sebab kaum thalib selalu
mendengar, membaca dan merenungkan sabda-sabda Rasulullah yang selalu
mengajarkan untuk berusaha keras disertai dengan tawakal kepada Allah.
Memang benar. Untuk bekerja diperlukan keahlian atau
ketrampilan. Sementara pesantren-pesantren kita –sebagiannya- tidak
mengajarkan hal itu. Ingat, hal ini tidak patut untuk dijadikan alasan
untuk tidak mengarahkan anak-anak kita belajar agama di pesantren
sebagai kaum thalib.
Pertanyaannya,
“Sumbangsih apa yang telah engkau berikan untuk pesantren? Bukankah seharusnya kita bekerjasama untuk mengembangkan pesantren? Bukannya pesantren malah ditinggalkan!”.Keahlian dan ketrampilan bisa diberikan juga untuk kaum thalib yang gigih berjuang di pesantren, namun apa yang akan engkau berikan untuk mereka? Jangan hanya mengkritik pesantren!
O0000_____0000O
Sebagai penutup, ijinkan saya mewakili kaum thalib untuk mengucapkan ikrar berikut ini :
Kami kaum thalib, telah bertetap hati untuk menghabiskan waktu mempelajari firman Ilahi dan sabda Nabi. Kami tidak peduli dengan omongan atau cibiran orang-orang tentang thalabul ilmi yang kami jalani.Walau sering ditanya, “Besok mau kerja apa?”, namun kami tidak pernah berkecil hati. Buktinya kawan-kawan kami tetap hidup dengan senang tanpa mengorbankan harga diri.Kami kaum thalib, yakin-seyakinnya bahwa Laisal ghinaa bi katsratil ‘aradh walakinnal ghinna ghinan nafsi. Kekayaan tidak diukur dengan harta, kekayaan sejati adalah kaya hati.Kami sering bertanya tanpa ada jawaban, “Apa yang bisa dibanggakan dari selembar ijazah, jika tidak bisa shalat tidak bisa mengaji?”. Sekali lagi kami percaya bahwa kekayaan hakiki terletak di hati.
Wallahu a’lam